Curhat Pilu Perawat yang Bertugas Cabut Ventilator, 'Aku Bagaikan Malaikat Pencabut Nyawa'

Selasa, 21 April 2020 | 10:06
BBC

Perawat Juanita Nittla dari sebuah rumah sakit di London bertugas sebagai mencabut ventilator pada pasien sekarat.

GridHEALTH.id - Jumlah korban meninggal di Inggris akibat infeksi virus Corona atau Covid-19 mendekati 10 ribu orang.

Ini terjadi setelah pejabat kesehatan Inggris melaporkan korban meninggal baru sebanyak 917 orang pada Sabtu (18/04/20) kemarin.

Inggris telah melaporkan sebanyak 9.875 korban meninggal akibat pademi virus corona. “Ini adalah jumlah korban terbanyak kelima sebuah negara,” begitu dilansir Reuters pada Minggu, 19 April 2020.

Sekitar 80 ribu orang di Inggris dilaporkan terinfeksi virus corona. Salah satunya adalah Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, yang sempat menjalani pengobatan di rumah sakit.

Ribuan tenaga medis terlibat di seluruh rumah sakit di Inggris untuk menyelamatkan nyawa para pasien terdampak virus corona.

Di antara para tenaga medis itu terselip Juanita Nittla. Ia adalah perawat kepala ruang di Unit Perawatan Intensif di Royal Free Hospital, London, Inggris, dan telah mengabdikan hidupnya di Badan Kesehatan Inggris (NHS) sebagai perawat spesialis perawatan intensif selama 16 tahun terakhir.

Baca Juga: Virus Corona, Bisakah Bertahan Hidup di Air Minum? Ini Penjelasannya

Baca Juga: Sindrom Mata Kering Jangan Dianggap Sepele, Bisa Menganggu Saraf di Otak Hingga Timbulkan Migrain

Tugasnya selama pandemi Covid-19, penyakit yang disebabkan virus corona, dikatakan perempuan berusia 42 tahun itu, traumatis dan menyakitkan. "Terkadang saya merasa seperti malaikat pencabut nyawa. Saya bertanggung jawab atas kematian seseorang."

Ya, mematikan alat bantu pernapasan yang disebut ventilator menjadi tugas utama Juanita.

Ventilator dapat menjadi penentu hidup dan matinya para pasien yang kondisinya parah karena Covid-19. Namun kadang-kadang, alat bantu pernapasan ini tidak mampu membantu menyelamatkan nyawa seseorang.

Ventilator mengambil alih proses pernapasan tubuh ketika virus corona sudah sampai pada tahap membuat paru-paru gagal berfungsi. Langkah ini memungkinkan tubuh pasien melawan infeksi dan sembuh, tetapi kadang-kadang tidak cukup membantu.

Tim medis harus mengambil keputusan sulit tentang kapan harus menghentikan perawatan kepada pasien yang kondisinya tidak membaik.

Keputusan diambil setelah pertimbangan matang, dengan menganalisis sejumlah faktor, seperti usia pasien, penyakit bawaan, reaksi tubuh terhadap virus dan peluang kesembuhan.

Ketika memulai tugasnya di pagi hari pada pekan kedua April, Nittla diberitahu bahwa tugas pertamanya adalah menghentikan perawatan bagi seorang perawat berusia 50-an tahun yang menderita Covid-19.

Halaman Selanjutnya

Baca Juga: Berantas Stunting, Posyandu Berikan Pendidikan…
Tag

Sumber Reuters, BBC