GridHEALTH.id - Industri suplemen sebagian besar tidak diatur, tidak seperti industri makanan dan obat-obatan. Jadi kita harus berhati-hati dengan pilihan kita, kata Dr Paul Ng, seorang spesialis gastroenterologi dan hepatologi Hong Kong.
“Kuncinya adalah moderasi, dan mengetahui dengan benar suplemen apa yang sebetulnya kita butuhkan."
Sebagai prinsip umum, dia menyarankan mengonsumsi suplemen untuk mengatasi apa yang kurang. Tetapi untuk memastikan kekurangan, perlu melakukan tes darah, bukan cuma mengandalkan gejala.
Lain lagi pendapat dari Michelle Lau, ahli diet terdaftar dan pendiri konsultan nutrisi Nutrilicious di Hong Kong.
Menurutnya, mengapa kita mesti pusing memikirkan suplemen padahal kita bukan vegan, penderita anemia atau menderita intoleransi laktosa?
"Apakah kita tidak mendapatkan apa yang kita butuhkan dari pola makan yang sehat? Saya menyukai pendekatan yang segar, alami, dan mengutamakan makanan utuh, tetapi pada akhirnya kami tidak sempurna dan ada nutrisi tertentu yang sulit didapat dengan cukup dari makanan saja. "
Baca Juga: Wah, Tertawa Ternyata Juga Bisa Memberi Efek Buruk Bagi Kesehatan
Baca Juga: Berita Bahagia Buat Penyuka Makanan Pedas, Ternyata Bikin Panjang Umur
Karena Lau tinggal di Hong Kong, dia mengatakan bahwa sebagian orang Hongkong tidak mendapatkan cukup vitamin D karena mereka tidak cukup makan ikani.
Dia merekomendasikan multivitamin, sebagai jaminan buat tubuh, dan asam lemak Omega-3 untuk menjaga kesehatan otak dan jantung.
“Suplemen dasar seperti vitamin C dan D sebetulnya baik=baik bukti baik-baik saja, tetapi terkadang orang tertarik dengan suplemen yang mungkin kurang penelitiannya mendukung penggunaannya, atau mengonsumsi suplemen yang dikonsumsi teman atau anggota keluarga mereka tanpa mempertimbangkan kebutuhan mereka sendiri,” kata Lau.
“Suplementasi yang berlebihan bisa berbahaya. Beberapa vitamin larut dalam air (seperti vitamin C dan B kompleks), dan semua vitamin yang tidak dibutuhkan tubuh akan keluar dari tubuh melalui urine.