Vaksin Covid-19 BioNTech dan Johnson & Johnson Efektif Melawan Varian Delta, Studi

Kamis, 08 Juli 2021 | 16:00
Kompas.com

Vaksin BioNTech dan Johnson & Johnson bakal menyusul digunakan karena dinilai efektif melawan virus Covid-19 varian Delta.

GridHEALTH.id - Di tengah gencarnya seluruh dunia mengadakan vaksinasi massal vaksin Covid-19 demi mencegah penyebaran, hasil studi munculnya vaksin-vaksin barus selalu ditunggu.

Belum lama ini, diketahui bahwa vaksin Pfizer-BioNTech 70% efektif melawan varian delta COVID-19 yang sangat menular, menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Israel.

Hasil penelitian Universitas Ibrani tentang kemanjuran vaksin diterbitkan oleh Perusahaan Penyiaran Publik Israel (KAN) pada hari Minggu di Times of Israel (04/07/2021).

Temuan baru ini dibandingkan dengan 95% tingkat efektivitas vaksin terhadap jenis virus sebelumnya.

Varian delta, yang pertama kali terdeteksi di India, dikatakan bertanggung jawab atas lebih dari 90% kasus Covid baru di Israel dan seluruh dunia selama dua minggu terakhir.

Varian Delta menghancurleburkan India pada bulan April dan Mei dan sejak itu menyebar ke seluruh dunia.

Baca Juga: Fakta Terbaru, Virus Corona Bisa Langsung Menginfeksi Sel di Mata

Baca Juga: Dokter Amerika Faheem Younus Peduli dengan Lonjakan Virus Corona di Indonesia, Harapkan Dunia Ikut Kontribusi

Sebuah laporan oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) memperkirakan jenis yang lebih menular dapat menyebabkan 90% kasus baru di UE pada akhir Agustus.

Menurut ECDC, varian Delta (B.1.617.2) 40-60% lebih mudah menular daripada varian Alfa (B.1.1.7) yang pertama kali terlihat di Inggris.

Sejak Desember 2019, pandemi telah merenggut lebih dari 3,97 juta jiwa di 192 negara dan wilayah, dengan sekitar 183,74 juta kasus dilaporkan di seluruh dunia, menurut Universitas Johns Hopkins.

Dikabarkan juga, vaksin Johnson & Johnson Covid-19 satu dosis efektif melawan varian Delta dari virus corona yang dianggap lebih menular dengan respons kekebalan yang berlangsung setidaknya delapan bulan, kata perusahaan itu pada Kamis (08/07/2021), dikutip dari USA Today.

Halaman Selanjutnya

Antibodi dan sel sistem kekebalan dalam darah…
Tag

Sumber USA Today, The Daily Sabah, Times of Israel