Find Us On Social Media :

Viral Kasus Kejahatan Seksual Reynhard Sinaga, Warganet Prihatinkan Nasib Para Korban, Pakar Sebut Ciri-ciri Korban Sodomi: 'Gampang Dikenali'

Sosok mahasiswa Indonesia, Reynhard Sinaga lekukan kejahatan seksual

GridHEALTH.id - Baru-baru ini, viral kasus kejahatan seksual yang dilakukan seorang mahasiswa Indonesia, Reynhard Sinaga di Inggris.

Bukti kejahatan seksual Reynhard Sinaga, pelaku pemerkosaan terbesar di Inggris, dilaporkan mencapai 3 terabite atau setara dengan 250 DVD.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Reynhard Sinaga, Predator Seksual Sesama Jenis yang Lahir di Jambi Ayahnya Seorang Bankir, Dihukum Seumur Hidup di Inggris

Polisi menyebut Reynhard Sinaga, yang berada di Inggris dalam rangka berkuliah, terhubung kepada korban yang jumlahnya diyakini lebih dari 190 orang.

Reynhard Sinaga, mahasiswa asal Indonesia yang menetap di Inggris ini dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Mendapat julukan pelaku pemerkosaan terbesar di Inggris, Reynhard Sinaga terbukti telah melakukan pemerkosaan dan serangan seksual pada 190 pria.

Baca Juga: Baru 3 Hari Dimakamkan, Sule Ngotot Minta Lihat Hasil Visum Lina Mantan Istrinya, Ada Apa?

Kasus viral ini akhirnya menarik empati banyak publik, bahkan tak sedikit warganet yang memprihatinkan para korban kejahatan seksual yang dilakukan Reynhard.

Pemerkosaan dan serangan seksual yang dilakukan Reynhard Sinaga pada 190 pria itu terjadi dalam kurun waktu dua setengah tahun.

Dalam sidang, diperdengarkan keterangan bagaimana pria 36 tahun berpura-pura baik dengan menawarkan minum atau tempat tidur kepada korban.

Baca Juga: Tak Perlu Rogoh Kocek Jutaan Rupiah, Pembuluh Darah Bisa Bersih dengan Mengonsumsi Makanan Ini

Dilansir The Independent Senin (6/1/2020), Hakim Suzanne Goddard mendeskripsikan Reynhard sebagai "predator setan seksual".

"Salah satu korbanmu menyebutmu monster. Skala dan dahsyatnya kejahatan yang engkau lakukan menggambarkannya," ujar Goddard.

Reynhard Sinaga tertangkap ketika salah satu korbannya sadar, dan melakukan perlawanan sebelum ponselnya disita polisi.

Akibat terkuaknya kasus ini, banyak warganet yang ikut memikirkan nasib para korbannya.

Baca Juga: Reynhard Sinaga Penjahat Kelamin asal Indonesia yang Dihukum Seumur Hidup di Inggris, Perkosa 190 Pria

Bagaimana tidak, Ia melakukan tindak sodomi tersebut kala para korbannya terlelap atau dalam keadaan mabuk tak berdaya.

Hal ini tentu membuat para korbannya menjadi ketakutan dan trauma.

Namun rupanya tak hanya trauma saja yang terjadi, para ahli menyebut bahwa korban sodomi memiliki ciri tertentu.

Psikolog forensik dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Reza Indragiri Amriel, menyatakan, pemeriksaan dubur untuk mengenali korban sodomi sebenarnya tidak membutuhkan prosedur khusus.

Bahkan, pemeriksaan alat vital dapat dilakukan hanya dengan mata telanjang. 

Baca Juga: Tahun 2020 Ria Irawan Meninggal Dunia, Ini Tanda Orang Terkena Kanker, Tidak Hanya Bermasalah Berat Badan dan Sakit

"Anak atau siapa pun yang telah menjadi obyek penyemburitan atau sodomi akan memiliki alat vital berbentuk corong. Mirip dengan tabung kaca yang ada pada lampu semprong.

"Benar-benar bolong seperti tabung. Lewat pemeriksaan mata telanjang, organ vital berbentuk corong itu bisa langsung dilihat, jadi tak membutuhkan prosedur khusus," ungkap Amriel, dikutip dari Kompas.com, Rabu (20/1/2010).

Akibat perlakuan sodomi, lanjutnya, korban sodomi biasanya akan mengalami masalah pencernaan, terutama saat buang hajat. 

"Benar-benar bolong seperti tabung. Efeknya, mereka akan kesulitan menahan buang air besar karena otot-otot penahan pembuangannya sudah rusak," ujar Amriel.

Amriel menekankan, walaupun tidak dibutuhkan prosedur khusus, pemeriksaan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan dampak psikologis yang menjalaninya.

Baca Juga: Baru 3 Hari Dimakamkan, Sule Ngotot Minta Lihat Hasil Visum Lina Mantan Istrinya, Ada Apa?

"Terlepas dari itu, jika dilakukan lewat paksaan, bisa kita bayangkan, akan memunculkan perasaan takut dan sejenisnya. Untuk mengatasinya, sekali lagi, awali dengan sesi informasi terlebih dahulu, baik untuk si korban maupun keluarganya," ujarnya.

Sebelum pemeriksaan, perlu ada pendekatan dan sosialisasi yang tepat kepada korban dan pihak keluarga. (*)

 #berantasstunting