Find Us On Social Media :

Gejala Demam Lassa, Penyakit Zoonosis yang Ditularkan Tikus Multimammate

Demam lasa, salah satu penyakitzoonosis yang mesti diwaspadai.

GridHEALTH.id - Demam lassa adalah jenis penyakit infeksi virus yang ditularkan dari hewan ke manusia alias zoonosis.

Demam lassa termasuk penyakit yang harus diwaspadai terutama bagi mereka yang sering pergi ke benua Afrika.

Penyakit ini selain sangat menular juga mematikan.

Menurut penjelasan di laman Kemenkes RI, penyebar atau reservoir dari virus Lassa adalah hewan dari genus Mastomys, spesies Mastomys natalensis umumnya dikenal sebagai tikus multimammate.

Tikus Mastomys yang terinfeksi dengan virus Lassa tidak menjadi sakit.

Akan tetapi mereka dapat menularkan virus dalam urin dan tinja mereka ke manusia.

Virus penyebab penyakit demam berdarah lassa adalah Lassa Virus (LASV)/ Virus Lassa, merupakan golongan arbovirus dengan genus arenavirus dan family arenaviridae.

Virus ini merupakan jenis virus demam berdarah (Viral Hemorrhagic Fever/VHF) pada primata.

Virus lassa merupakan virus RNA yang berantai tunggal dan ditemukan sekitar 30 tahun lalu.

Baca Juga: Cara Mudah Membasmi Cicak di Rumah yang Jadi Sumber Penyakit Zoonosis

Masa Inkubasi dan Gejala Demam Lassa

Menurut cdc.gov (25/3/2014), tanda dan gejala demam Lassa pada orang yang terinfeksi biasanya terjadi 1-3 minggu setelah pasien bersentuhan dengan virus.

Untuk sebagian besar infeksi virus demam Lassa (sekitar 80%), gejalanya ringan dan tidak terdiagnosis.

Gejala ringan termasuk demam ringan, malaise umum dan kelemahan, dan sakit kepala.

Namun, pada 20% individu yang terinfeksi, penyakit dapat berkembang menjadi gejala yang lebih serius.

Termasuk pendarahan (misalnya pada gusi, mata, atau hidung), gangguan pernapasan, muntah berulang, pembengkakan wajah, nyeri di dada, punggung, dan perut, dan syok.

Masalah neurologis juga telah dijelaskan, termasuk gangguan pendengaran, tremor, dan ensefalitis.

Kematian dapat terjadi dalam waktu dua minggu setelah timbulnya gejala karena kegagalan multi-organ.

Komplikasi yang paling umum dari demam Lassa adalah sebabkan tuli alias hilang kemampuan pendengaran.

Baca Juga: Covid-19 Masuk Dalam 'Disease X', Ilmuwan Prediksi Masih Banyak Lagi Penyakit yang Bakal Muncul

Berbagai derajat ketulian terjadi pada sekitar sepertiga dari infeksi, dan dalam banyak kasus gangguan pendengaran bersifat permanen.

Sejauh yang diketahui, keparahan penyakit tidak mempengaruhi komplikasi ini: ketulian dapat berkembang pada kasus ringan maupun berat.

Sekitar 15% -20% pasien yang dirawat di rumah sakit karena demam Lassa meninggal karena penyakit tersebut.

Namun, hanya 1% dari semua infeksi virus Lassa yang mengakibatkan kematian.

Penting diketahui, tingkat kematian wanita pada trimester ketiga kehamilan sangat tinggi jika sampai terpapar demam lassa.

Keguguran merupakan komplikasi infeksi yang serius dengan perkiraan kematian 95% pada janin dari ibu hamil yang terinfeksi.

Karena gejala demam Lassa sangat bervariasi dan tidak spesifik, diagnosis klinis seringkali sulit.

Demam Lassa juga dikaitkan dengan epidemi sesekali, di mana tingkat fatalitas kasus dapat mencapai 50% pada pasien rawat inap.(*)

Baca Juga: 17 Juta Cerpelai Dikubur Massal usai Diduga Membawa Strain Virus Corona, WHO: Tindakan Pemusnahan Hewan untuk Membatasi Penyebaran Covid-19

#berantasstunting

#hadapicorona

#BijakGGL