Find Us On Social Media :

Demam Berdarah Krimea Kongo Bisa Jadi Pandemi Berikut, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya

By Soesanti Harini Hartono, Minggu, 5 Desember 2021 | 12:00 WIB

Kutu Ixodid (keras), terutama dari genus Hyalomma, merupakan reservoir dan vektor virus CCHF.

GridHEALTH.id - Demam berdarah Krimea-Kongo (Crimean-Congo Hemorrhagic Fever/CCHF) disebabkan oleh infeksi virus tick-borne (Nairovirus) dalam keluarga Bunyaviridae.

Penyakit ini pertama kali ditemukan di Krimea pada tahun 1944 dan diberi nama demam berdarah Krimea. Kemudian diakui pada tahun 1969 sebagai penyebab penyakit di Kongo, sehingga menghasilkan nama penyakit saat ini.

Demam berdarah Krimea-Kongo ditemukan di Eropa Timur, khususnya di bekas Uni Soviet, di seluruh Mediterania, di Cina barat laut, Asia Tengah, Eropa Selatan, Afrika, Timur Tengah, dan anak benua India.

Kutu Ixodid (keras), terutama dari genus Hyalomma, merupakan reservoir dan vektor virus CCHF.

Banyak hewan liar dan domestik, seperti sapi, kambing, domba, dan kelinci, berfungsi sebagai inang pengganda virus.

Penularan ke manusia terjadi melalui kontak dengan kutu yang terinfeksi atau darah hewan. CCHF dapat ditularkan dari satu manusia yang terinfeksi ke manusia lain melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh yang menular.

Baca Juga: Ditularkan dari Gigitan Kutu, Ini Gejala Demam Berdarah Crimean-Congo

Baca Juga: Fakta, Pengobatan Virus Nipah Sebatas Perawatan Suportif Karena Belum Ada Obatnya

Penyebaran CCHF yang terdokumentasi juga terjadi di rumah sakit karena sterilisasi peralatan medis yang tidak tepat, penggunaan kembali jarum suntik, dan kontaminasi persediaan medis.