Find Us On Social Media :

Mata Malas Bisa Dicegah dengan Skrining, Pengobatan Bisa Ditanggung BPJS

Skrining mata malas dimulai dari usia 0-2 tahun.

Anak-anak yang berisiko mengalami ambliopia biasanya memiliki riwayat keluarga dengan masalah mata seperti strabismus, mata malas, atau penggunaan kacamata sejak kecil.

Faktor risiko lainnya termasuk kelahiran prematur, keterlambatan perkembangan, dan diabetes.

Riwayat medis ini dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya ambliopia pada anak.

Selain itu, kondisi mata seperti mata juling, mata berair, ptosis, dan penglihatan kabur juga perlu diperhatikan.

Skrining mata sebaiknya dilakukan sejak bayi baru lahir, pada usia sekitar 0 hingga 2 tahun, untuk mengetahui riwayat masalah mata dalam keluarga dan mencegah gangguan lebih lanjut.

“Kemudian, cek penglihatan pergerakan mata atau adanya nistagmus, jadi matanya tidak diam, dia bergerak terus, kemudian bagaimana posisi bola mata apakah ada juling, dan refleks pada kornea serta cover tes untuk melihat ada juling atau tidak,” tutur dr. Feti.

Skrining mata berikutnya dilakukan pada usia 36 hingga 47 bulan (sekitar 3 hingga 4 tahun).

Pada usia 5 tahun (60 bulan), skrining mata diulang lalu dianjurkan dilakukan setiap tahun untuk memantau kesehatan mata anak.Menurut dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, sebagian biaya kesehatan untuk ambliopia dan kasus anak lainnya akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan bagi peserta yang terdaftar.

Dia juga mengingatkan pentingnya deteksi dini dan melibatkan guru dalam memantau penglihatan anak di sekolah.

“Dalam rangka Hari Kesehatan Mata, kami benar-benar ingin mengingatkan kepada masyarakat, terutama untuk melakukan deteksi lebih dini, dan kalau memang kita perlu perkuat guru-guru di sekolah agar dapat memperhatikan anak didiknya. Kalau anak didik duduk pada jarak tertentu tapi tidak bisa baca, ini harus segera dikonsultasikan,” ucap dr. Nadia.

Baca Juga: 6 Ciri-ciri Mata Sehat, Penglihatan Jernih dan Tajam Salah Satunya