Find Us On Social Media :

#Indonesiaterancambangkrut Viral dan Bikin Resah Disuasana Pandemi, Benarkah Covid-19 Sebabkan Indonesia Akan Mewariskan Hutang 10 Ribu Triliun?

Indonesia tercancam bangkrut. Karena Covid-19 kah?

GridHEALTH.id - Saat Pandemi Covid-19 Indonesia terpukul dari banyak sektor.

Ekonomi sudah jelas dan langsung terasa oleh masyarakat. Daya beli masyarakat anjlok signifikan saat pandemi Covid-19.

Baca Juga: Vitamin untuk Pertumbuhan Anak Apakah Perlu Selalu Diberikan? Berikut Ini Penjelasannya

Belum lagi ditambah banyakya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di industri dan kantor, karena sudah tidak mampu lagi menggaji karyawan.

Pemotongan gaji, bonus, hingga insentif diberabagi tempat usaha dan kerja, sudah menjadi hal jamak sejak pandemi Covid-19 melanda tanah air.

Apakah ini yang menjadi viral tagar #indonesiaterancambangkrut yang saat ini sedang ramai dibicarakan?

Untuk diketahui #IndonesiaTerancamBangkrut sempat menjadi trending topic di jagat Twitter Indonesia pada Selasa (20/4/2021) pagi.

Trabding topic #Indonesiaterancambangkrut cukup lama. Melansir Intisari-online.com, Kira-kira selama empat jam, dari pukul 4 hingga pukul 8 pagi, tagar ini berada di tiga besar trending topic Indonesia meski pada akhirnya digeser oleh tagar #OptimisNKRIPastiBangkit.

Baca Juga: Perlu Diketahui! 2 Penyakit Ini Penyebab Umum Penyakit Ginjal Kronis

Hingga kini belum diketahui secara pasti siapa yang pertama menggaungkan tagar #indonesiaterancambangkrut.

Ada beberapa akun Twitter yang tersorot menyuarakan #indonesiaterancambangkrut, semisal akun @LkmnOkterman yang menulis "Terima kasih pa @jokowi . #IndonesiaTerancamBangkrut #IndonesiaTerancamBangkrut" sambil mengunggah beberapa tangkapan layar tentang utang Indonesia.

Baca Juga: Menkes Budi Gunadi Tahu Penyebab Kasus Covid-19 di India Kembali Meledak, Indonesia Harus Waspada

Beberapa dari gambar yang diunggah oleh akun tersebut di antaranya sebuah tangkapan layar berita yang menyebut utang luar negeri Indonesia terus naik hingga mencapai Rp6.200 triliun.

Ada pula sebuah unggahan yang menunjukkan infografis yang menyebut bahwa kelak pemerintah Indonesia, tentunya di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, akan mewariskan utang sebesar Rp10.000 triliun.

Beberapa akun kemudian membantah tagar tersebut dengan menyebut bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak mengarahkan negara ini pada kebangkrutan.

Lalu, seperti apa sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia saat ini?

Benarkah utang Indonesia sudah terlalu tinggi dan bisa membawa negara ini pada kebangkrutan?

Baca Juga: Alhamdulillah, Pandemi Covid-19 di Indonesia Ternyata Bisa Berakhir Tahun Depan. Ini Catatannya

Jika benar akan bangkrut atau banyak hutang, untuk hal apa? Apakah karena pandemi Covid-19?

Jika merujuk laporan pada akhir Februari 2021, maka utang pemerintah Indonesia mencapai Rp6.361 triliun.

Jumlah ini lebih besari Rp1.412,82 triliun jika dibandingkan dengan periode yang sama, Februai 2020, yang berjumlah Rp4.948,18 triliun.

"Jadi dari sisi jumlah, utang kita mencapai Rp 6.361 triliun," tutur Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman, Selasa (23/3/2021).

Sementara jika dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya, Januari 2021, jumlah tersebut meningkat Rp127,86 triliun.

Baca Juga: Sudah Tahu Sejak Sebelum Nikah, Respon Ashanty Kemarin Prihal Atta Halilintar Ingin Punya 15 Anak Dari Aurel; “Rasain dulu aja”

Peningkatan jumlah utang luar negeri pemerintah sendiri, menurut Luky, sebenarnya sudah diprediksi oleh pemerintah.

Sebab, besarnya kebutuhan anggaran untuk penanganan pandemi Covid-19 baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi sangat besar.

Lihat saja besarnya anggaran untuk penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) pada 2021 yang mencapai Rp 699,34 triliun.

Sementara itu pendapatan negara juga mengalami penurunan salah satunya disebabkan oleh keringanan pajak dalam rangka stimulus ekonomi masyarakat saat pandemi Covid-19.

Lalu, apakah kondisi tersebut secara otomatis akan membuat Indonesia berada di jurang kebangkrutan?

Baca Juga: Penyandang Diabetes Wajib Perhatikan Dua Hal Penting Ini Jika Ingin Ikut Puasa Ramadan

Apalagi beberapa pihak membandingkan besarnya utang Indonesia yang lebih besar dua kali lipat dibandingakan dengan negara tetangganya, Malaysia, yang selama ini dianggap memiliki ekonomi lebih baik dari Indonesia.

Jika merujuk pada besarnya utang Indonesia di atas, maka rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ada di kisaran 38-39 persen.

Rasio ini tergolong masih dalam jumlah yang kecil dibandingkan dengan rasio utang negara-negara lain di dunia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan bahwa proyeksi utang dunia saat ini memang 'kompak' mengalami kenaikan.

Sri Mulyani mencontohkan Amerika Serikat yang memiliki perbandingan utang terhadap GDP sudah di atas 100%.

Baca Juga: Tetap Vaksin Covid-19 di Bulan Ramadan, Ini Tips yang Perlu Diperhatikan Bagi Semua Orang

Jerman, China, dan India sudah di atas 60%. Sementara Singapura dan Malaysia, yang kerap dibandingkan dengan Indonesia, sudah di atas 100%.

Bahkan, salah satu negara paling maju seantero Asia dan dunia, yaitu Jepang, memiliki besar rasio utang keseluruhan mencapai 250% alias utangnya 2,5 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan PDB-nya.

Pernyataan Sri Mulyani bahwa rasio utang Indonesia masih dalam taraf wajar sebenarnya juga bukan sekadar klaim sepihak.

Pihak luar dalam hal ini lembaga internasional bahkan sudah mengakui bahwa kondisi utang Indonesia masih dalam taraf wajar.

Baca Juga: Jokowi Angkat Bicara Prihal Larangan Mudik Lebaran 2021 dan Alasannya

Terbaru, lembaga pemeringkat Fitch masih menempatkan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada peringkat BBB (investment grade) dengan outlook stabil.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan keputusan Fitch tersebut sebagai pengakuan atas stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia yang tetap terjaga.

"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik, mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta terus bersinergi dengan Pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional," tutur Perry, Kamis (25/3/2021), seperti dilansir kompas.com.

Jadi, sekali lagi diingatkan, besarnya jumlah utang tidak melulu menjadi faktor buruk atau tidaknya ekonomi suatu negara.

Masih banyak faktor lain yang perlu dilihat secara rinci.

Baca Juga: Nagita Slavina: Awalnya Suka Menangis, Saat Test Pack Hasilnya Positif Hamil

Masyatakat Indoensia tetap tenang, tetap fokus untuk Indonesia lebih baik dan maju, keluar dari pandemi Covid-19 dengan selamat.

Untuk itu jangan mudah terhasul dan ikut-ikutan hal-hal yang belum tentu kebenarannya dan dari sumber yang tidak kredibel.(*)

#berantasstunting

#HadapiCorona

#BijakGGL