Find Us On Social Media :

Indonesia Tengah Dipantau WHO, Terdeteksi Varian Baru Covid-19 yang Memiliki Perubahan Pada Materi Genetiknya

Varian covid-19 baru muncul di Indonesia.

GridHEALTH.id - Munculnya varian baru Covid-19 di Indonesia kini tengah dipantau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hal itu diungkap Satgas Penanganan Covid-19 seperti dilansir dari covid-19.go.id (14/9/2021).

Menurut Satgas Penanganan Covid-19, pengaruh varian baru Covid-19 di Indonesia atas angka kasus di masyarakat ini belum jelas sehingga perlu penelitian lebih lanjut.

Disebutkan juga bahwa WHO menetapkan varian baru Covid-19 dari Indonesia tersebut dalam kategori virus corona yang memiliki perubahan pada materi genetiknya atau alert for further monitoring.

Adapun nama yang diberikan pada varian baru Covid-19 di Indonesia ini adalah B1.4662.

Satgas Penanganan Covid-19 menyebutkan, WHO menetapkan B1.4662 dalam kategori alert for further monitoring pada April 2021.

Baca Juga: Studi Terbaru di India Antibodi Covid-19 Akan Turun dalam 4 Bulan Setelah Vaksinasi, Pemerintahnya Pertimbangkan Pemberian Booster, WHO Sebut Belum Perlu

Selain itu, WHO juga menetapkan dua kategori utama varian virus corona, yakni variant of concern (VoC) atau varian yang menjadi perhatian dan variant of interest (VoI) atau varian yang diamati.

Mengenai VOC, ada 4 varian yang harus diperhatikan:

- Varian A (alpha) atau B.1.1.7 bersifat lebih menular dan lebih berpeluang menyebabkan keparahan gejala.

- Varian Beta (B.1.351) bersifat lebih menular dan meningkatkan risiko kebutuhan perawatan di rumah sakit

- Varian gamma (P.1) bersifat lebih menular dan meningkatkan risiko kebutuhan perawatan di rumah sakit

Baca Juga: Menkes: 3.830 Orang Positif Covid-19 Terjaring Aplikasi PeduliLindungi Jalan-Jalan ke Mal, Bandara Hingga Restoran

- Varian Delta (B.1.617.2) bersifat lebih menular bahkan bagi orang yang telah tervaksin serta meningkatkan risiko kebutuhan perawatan di RS

Sedangkan VOI yang sedang diamati, yaitu:

- Varian Eta (B.1.525)

- Iota (B.1.526)

- Kappa (B.1.517.1)

- Lambda (C.37)

- Mu (B.1621)

Baca Juga: Peneliti Jepang: Cegah Badai Sitokin dan Pembekuan Darah Pasien Covid-19 Dengan Vitamin B6

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan, varian yang perlu diwaspadai ialah VoC.

Sebab, sudah terbukti mengalami perubahan karakteristik yang lebih merugikan bagi yang terpapar.

Misalnya, lebih menular, meningkatkan keparahan gejala, menurunkan efektifitas kekebalan tubuh, menurunkan alat diagnostik, dan menurunkan efektifitas obat dan terapi.

"Dalam menghadapi VoC, respons yang tepat ialah memperketat kebijakan mobilitas dengan skrining berlapis. Khususnya bagi pelaku perjalanan asal negara dimana varian tersebut ditemukan," kata Wiku dikutip dari Covid19.go.id.

"Selain itu, perlu dilakukan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi tertular dengan meningkatkan disiplin protokol kesehatan di manapun dan kapanpun kita berada," imbuh dia.

Baca Juga: Marlina Octoria Ungkap Alami Gangguan Organ Vital Akibat Dipaksa Berhubungan Intim saat Menstruasi

Terkait protokol kesehatan, diketahui ini  sangat bermanfaat karena penularan virus corona sangat sulit untuk diprediksi termasuk juga varian baru yang ada, siapa saja bisa terkena penyakit tersebut.

Disebutkan di laman who.int (9/7/2020) berjudul "Coronavirus disease (COVID-19): How is it transmitted?", dijelaskan, Covid-19 ditularkan melalui kontak langsung dengan tetesan pernapasan dari orang yang terinfeksi, baik yang dihasilkan melalui batuk maupun bersin.

Seseorang juga dapat terinfeksi dari dan menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus dan kemudian menyentuh wajah mereka misalnya mata, hidung, mulut.

Karenanya menjalankan protokol kesehatan seperti 5M (Memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi serta interaksi) tidak boleh terabaikan meski sudah disuntik vaksin Covid-19 dosis kedua.(*)

Baca Juga: Pejabat dan Publik Figur Indonesia Sibuk Berharap Vaksin Dosis Ketiga, The Lancet Malah Sebutkan Vaksin Penguat Tidak Dibutuhkan Masyarakat Umum

#berantasstunting

#hadapicorona

#BijakGGL