Find Us On Social Media :

Pembunuh Besar Manusia Bukan Merokok Tapi Makanan yang Dikonsumsi Sehari-hari, Diet Apalagi

Makanan menjadi faktor kematian jutaan orang di dunia setiap tahunnya

GridHEALTH.id - Sebuah penelitan baru membuat banyak pakar kesehatan, apalagi mereka yang berkecimpung dalam urusan diet tercengang

Hasil penelitian tersebut menunjukkan makanan merupakan salah satu faktor yang membuat jutaan orang di seluruh dunia meninggal setiap tahunnya.

Analisis yang diterbitkan dalam jurnal Inggris, The Lancet menemukan, makanan sehari-hari yang kita konsumsi adalah pembunuh yang lebih besar daripada merokok.

Penelitian yang diterbitkan pada Rabu (3/4/2019) kemarin menyimpulkan seperlima dari kematian seluruh dunia berkaitan dengan teknik diet yang buruk.

Diet, tidak selalu tentang mengurangi kalori untuk menurunkan berat badan, namun pengaturan pola dan konsumsi makanan serta minuman.

Baca Juga : Tak Perlu Bedah Tengkorak, Tumor Otak Kini Bisa Ditangai Melalui Alis & Tak Tinggalkan Bekas Jahitan!

Diet buruk dalam penelitian ini berarti, mereka yang kekurangan sayuran segar, biji-bijian dan kacang-kacangan tetapi justru benyak mengonsumsi makanan yang tinggi gula, garam dan lemak trans.

Pada 2017, diet buruk seperti ini membuat 11 juta kematian yang sebenarnya bisa dihindari, kata para peneliti.

Kematian tersebut terbagi menjadi sekitar 10 juta kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung.

Selanjutnya, sebanyak 913.000 kematian disebabkan oleh kanker dan 339.000 kematian penyebabnya adalah diabetes tipe 2.

"Angka-angka ini sangat mengejutkan," kata Dr. Francesco Branca, ahli gizi terkemuka di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

"Ini harus menjadi peringatan untuk dunia," sambungnya, melansir New York Times.

Studi ini, yang didanai oleh Yayasan Bill & Melinda Gates, membahas kebiasaan makan masyarakat secara global dari 1990 hingga 2017 dan melacak makanan yang dikonsumsi dalam 15 kategori, termasuk susu, daging olahan, makanan laut, natrium dan serat.

Baca Juga : Niatnya Ingin Cantik, Kulit 3 Wanita Ini Malah Terbakar Saat Lakukan Laser Hair Removal!

Para peneliti menganalisis data dari 195 negara dan menemukan bahwa Papua Nugini, Afghanistan, dan Kepulauan Marshall memiliki proporsi tertinggi terkait kematian akibat pola makan, sementara Perancis, Spanyol, dan Peru memiliki angka terendah.

Amerika Serikat peringkat ke-43, Cina termasuk yang terburuk pada tingkat ke-140.

Studi ini menemukan perbedaan sepuluh kali lipat antara negara-negara dengan tingkat kematian terkait diet tertinggi dan terendah.

Misalnya, Uzbekistan memiliki 892 kematian per 100.000 orang dibandingkan dengan 89 di Israel.

Untuk mengurangi dampak dari diet buruk ini, peneliti memberi saran kepada masyarakat untuk menambahkan daftar makanan sehat ke diet global agar lebih efektif.

Baca Juga : Selena Gomez Rutin Minum Jus Jahe Setiap Pagi Karena Punya Beragam Manfaat, 'Jahe Membunuh Racun di Tubuh!'

Daripada harus mencari orang untuk mengurangi konsumsi lemak dan gula yang berkolerasi dengan penyakit serta kematian dini.

Menurut penulis utama penelitian ini, Dr. Ashkan Afshin, seorang epidemiologi di Universitas Washington mengungkapkan adanya kesenjangan dalam jumlah makanan sehat dan tidak sehat yang mereka konsumsi.

Misalnya, secara global rata-rata orang mengonsumsi daging merah sebanyak 27 gram sehari, sedikit lebih tinggi daripada yang seharunya mereka konsumsi yaitu 23 gram.

Tetapi ketika makan kacang atau biji-bijian yang seharusnya 21 gram sehari, mereka justru hanya makan 3 gram.

Dia dan para ahli lainnya mengatakan temuan ini menggaris bawahi pentingnya kebijakan nasional untuk meningkatkan ketersediaan buah dan sayuran, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah di mana produk segar dapat lebih mahal daripada makanan olahan. 

Perusahaan makanan besar harus ditekan untuk menciptakan produk yang lebih sehat, kata para ahli, dan dokter harus didorong untuk membahas pentingnya diet yang baik dengan pasien mereka.

Namun, penelitian ini dianggap masih memiliki keterbatasan. Ada kesenjangan penting dalam data terkait diet dari negara-negara miskin.

Serta beberapa kematian yang bisa saja disebabkan oleh lebih dari faktor makanan saja.(*)

Baca Juga : 8 Tahun Belum Diberi Momongan, Zaskia Sungkar Akhirnya Akan Jalani Program Bayi Tabung, Ini yang Harus Dipersiapkannya