Find Us On Social Media :

Waspada Infeksi Ganda, Kemenkes Beberkan Wabah Penyakit DBD Telah Mencapai 68.000 Kasus

Virus DBD Mengintai di Tengah Pandemi Covid-19.

GridHEALTH.id - Bergeser dari wabah penyakit virus corona, wabah penyakit lainnya yaitu demam berdarah dengue (DBD) hingga kini masih terus bertambah jumlahnya.

Penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk jenis aedes aegypti itu secara akumulatif hingga Juni 2020 di Indonesia jumlahnya mencapai 68.000 kasus DBD.

Hal itu sebagaimana disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi dalam siaran langsung di akun YouTube BNPB, Senin (22/6/2020).

Baca Juga: Jangan Lengah Disaat Pandemi, Kematian akibat Demam Berdarah Dengue Sudah Mencapai 251 jiwa, Corona 122 jiwa

Bahkan, setiap harinya kasus DBD ditemukan sekitar 100 hingga 500 kasus.

“Sampai saat ini, kita masih menemukan kasus antara 100-500 kasus per hari. Kalau kita melihat jumlah kasus ada 68.000 kasus demam berdarah seluruh Indonesia,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi dalam siaran langsung di akun YouTube BNPB, Senin (22/6/2020).

Baca Juga: Bukan Hanya Corona, Kasus DBD Juga Perlu Diperhatikan Sebab 25.000 Kematian Akibat DBD Setiap Tahunnya

Padahal jika dibandingkan dengan kasus virus corona, total kasus yang dilaporkan hingga Minggu (21/6/2020) kemarin sejumlah 45.981 kasus.

Maka tidak mengherankan, jika beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta kepada jajarannya untuk tidak menyampingkan ancaman wabah penyakit DBD.

"Di bidang kesehatan, kita memiliki agenda besar, yaitu menurunkan stunting, pemberantasan TBC, malaria, demam berdarah, HIV/AIDS, dan juga berkaitan dengan gerakan hidup sehat yang harus terus kita kerjakan," kata Jokowi dalam Ratas dikutip dari akun YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (29/5).

Baca Juga: Jangan Lengah Disaat Pandemi, Kematian akibat Demam Berdarah Dengue Sudah Mencapai 251 jiwa, Corona 122 jiwa

Lebih lanjut, Nadia menyebutkan dari total kasus DBD tersebut, sebanyak 346 orang di antaranya meninggal.

Nadia mengatakan, pasien yang meninggal kebanyakan tersebar di provinsi dengan jumlah kasus tertinggi.

Baca Juga: KLB DBD di NTT, Bupati Belu Sebut Ada Pasien Meninggal di Depan Matanya

Provinsi dengan jumlah kasus DBD tertinggi antara lain Jawa Barat, Lampung, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.

“Sama kurang lebih gambarannya adalah provinsi-provinsi yang tadi, ada Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, yang merupakan juga kasus-kasus tertinggi akibat kematian,” ucap dia.

Tak hanya itu, Nadia juga mengatakan, daerah yang mencatatkan kasus DBD tertinggi juga memiliki jumlah kasus Covid-19 yang tinggi.

Berdasarkan catatannya, ada 439 dari 460 kabupaten/kota yang melaporkan kasus DBD juga memiliki kasus Covid-19. Dia pun menyebutnya sebagai infeksi ganda.

Baca Juga: Waspada! Tak Selalu Bintik Merah di Kulit, Inilah Gejala Baru DBD

Atas kondisi itu, menurut Nadia, seseorang yang terinfeksi Covid-19 juga memungkinkan berisiko terjangkit DBD.

“Karena pada prinsipnya sama, DB adalah suatu penyakit yang sampai sekarang juga belum ada obatnya, vaksinnya belum terlalu efektif,” ucap dia.

Baca Juga: 15 Juni Diperingati Hari DBD ASEAN, Berikut Langkah Tepat Agar Terhindar dari Gigitan Nyamuk

Untuk itu, Nadia meminta kepada seluruh masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan, baik pencegahan gigitan nyamuk DBD maupun infeksi virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19.

“Dan salah satu upaya untuk mencegahnya adalah kita menghindari gigitan nyamuk. Sama-sama virus ini,” kata Nadia.(*)

 #berantasstunting #hadapicorona