Find Us On Social Media :

BPOM dan DPR Sudah Meninjau Tempat Penelitian Vaksin Covid-19 Nusantara, Ini Oleh-Olehnya Untuk yang Merespon Negatif

Vaksin Nusantara harapan baru. Tidak percaya, silahkan cek ke tempat penelitiannya.

GridHEALTH.id - Mantan Menkes dr. Terawan Agus Putranto selalu membuat publik tercengang dengan idenya dan apa yang dilakukannya.

Karenanya tidak seidkit apa yang dilakukannya selalu membuat polemik kontra.

Baca Juga: Di Dalam Penjara Sakit Gatal-gatal, Keluar Penjara Catherine Wilson Menjadi Gemuk, Ini Pengakuannya Selama Rehabilitasi

Nah, yang terbaru adalah mengenai vaksin Covid-19 yang disebutnya sebagai vaksin nusantara.

Dalam kemunculan perdananya sejak tidak lagi menjadi Menkes, dr Terawan langsung kembuat publik kaget, lalu muncul silang pendapat di kalangan medis.

Saat itu dirinya menyuaarakan mengenai dirinya dan tim sedang memprakarsai vaksin nusantara.

Vaksin nusantara tersebut adalah vaksin Covid-19, yang bisa diberikan kepada mereka yang memiliki komorbid.

Menurut Terawan vaksin yang diinisiasinya itu sudah masuk tahap uji klinis tahap kedua di Rumah Sakit Kariadi Semarang, Jawa Tengah.

Terawan mengatakan, bila lolos semua tahap uji klinis dan mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), vaksin nusantara akan diproduksi secara masal.

Baca Juga: Vaksin Nusantara Direspon Negatif, dr Tifa; Heran Banyak Ilmuan dan Dokter Indonesia Nyinyir pada Karya Anak Bangsa

Ia menyebut kelak produksi vaksin nusantara bisa mencapai 10 juta dosis per bulan.

“Kita harus punya kemampuan mandiri untuk membuat vaksin Covid-19 yang platformnya individual,” katanya.

Terawan pun menjelaskan, vaksin nusantara ini mewujudkan vaksin berbasis dendritic cell.

"Dampaknya apa? Tentunya akan memberikan kekebalan terhadap Covid-19 dan karena ini sifatnya menjadi imunitas yang seluler tentunya akan bertahan lama, karena tingkatnya di sel bukan imunitas humoral tapi seluler," jelasnya, dikutip dari Kompas TV, Rabu (17/2/2021).

Berdasarkan laman British Society for Immunology, dendritic cell atau sel dendritik (DC) bertanggung jawab atas inisiasi respons imun adaptif dan karenanya berfungsi sebagai 'penjaga' sistem kekebalan.

Baca Juga: Dendritic Cell Untuk Vaksin Covid-19 dan Polemiknya di Indonesia, Politis atau Ilmiah?

Menurut Anggota Tim Uji Klinis Vaksin Nusantara Jajang Edi Prayitno, Vaksin Nusantara dengan dendritic cell tersebut dapat digunakan dalam sekali suntik berlaku seumur hidup.

"Sehingga secara pembiayaan pun lebih menguntungkan dan tidak menguras devisa negara, karena ini diproduksi dalam negeri," ujarnya.

Diketahui, Vaksin Nusantara telah dikembangkan sejak Desember 2020 dan selesai uji klinis fase I pada akhir Januari 2021.

Saat ini, pengembangan vaksin ini telah memasuki tahapan uji klinis fase II yang sudah berjalan mulai Februari 2021.

Baca Juga: Konon Berikan Kekebalan Seumur Hidup, Epidemiolog Minta Vaksin Nusantara Buatan Terawan Dihentikan: 'Sebaiknya Tidak Didanai Pemerintah'

Vaksin Nusantara ditarget rampung dalam setahun dan diperkirakan akan dipasarkan di harga 10 USD atau sekitar di bawah Rp 200 ribu.

Tapi Terawan dan tim mendapat kritikan pedas dan keras dari banyak pihak, mulai dari pakar Epidemiologi UI, hingga para dokter, termasuk dari IDI.

Malah sampai ada yang mengatakan vaksin Covid-19 Nusantara itu adalah hanya akal-kalan Terawan.

Kritikan tersebut ada yang tertuang dalam artikel media, juga yang diunggah langsung oleh yang bersangkutan di sosial media.

Tapi, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena justru langsung meninjau lokasi tempat penelitian vaksin Covid-19 Nusantara ini.

Baca Juga: Terawan Klaim Vaksin Nusantara Hasilkan Antibodi Seumur Hidup, IDI: 'Mana Buktinya? Data Uji Klinis Saja Belum Ada'

Melki mengatakan, pihaknya di Komisi IX DPR RI telah melihat langsung fakta di lapangan setelah berkunjung dan melihat serta mendengar presentasi dari tim peneliti Universitas Diponegoro dan RS Kariadi Semarang yang beberapa bulan ini melakukan uji klinis tahap 1 kepada 30 orang.

"Mereka bekerja dalam senyap dan diam mulai berani membuka diri dan publikasi setelah proses uji kilinis tahap 1 selesai dan hasilnya positif berpotensi menjadi vaksin dengan metode baru dan bersifat individual," kata Melki dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (22/2/21), dilansir dari Telusur.co.id (22 Februari 2021).

Dalam kunjungan tersebut, "Perwakilan BPOM RI juga hadir saat itu, dan menerima langsung hasil penelitian uji klinis tahap 1 untuk diteliti lebih lanjut sebelum masuk ke uji klinis tahap 2," terangnya.

"Komentar yang tidak melalui konfirmasi ke peneliti atau melihat hasil BPOM tidak memberikan kontribusi apapun terhadap upaya pelaksanaan Inpres No 6 tahun 2016 tentang percepatan produksi dan penggunaan obat dan alat kesehatan dalam negeri yang menjadi pesan Presiden Jokowi bagi sektor kesehatan," ungkapnya.

Baca Juga: Kembali Telan Pil Pahit, Pemerintah Pangkas 7 Hari Cuti Bersama jadi 2 Hari Saja: Takut Terjadi Lonjakan Kasus Covid-19

Karenanya menurut Melki, bagi para peneliti dan berbagai kalangan yang punya pendapat lain agar langsung ke Universitas Diponegoro atau RS Kariadi.

Bisa juga menunggu hasil BPOM yang tengah mengecek data ini.

Jangan membuat gaduh dengen memperkecil dan mendeskriditkan karya anak bangsa. Baiknya bantu kekurangan dan bantu perbaiki kesalahannya.(*)

Baca Juga: Sambil Bawa Keranda Relawan Covid-19 di Bantul Serbu Kantor DPRD, Ternyata Ini Penyebabnya

#berantasstunting

#HadapiCorona

#BijakGGL