Find Us On Social Media :

Kesaksian Pasien Covid-19; Tak Ada Maksud Sembunyikan Riwayat Kesehatan, Jika Jujur Tidak Dilayani dan Membuat Tenaga Medis Ketakutan

Cuitan seorang pasien yang mengaku mendapat perlakuan tak mengenakan saat jujur positif Covid-19 kepada tenaga medis.

GridHEALTH.id - Tak sedikit orang yang sebenarnya memiliki riwayat diduga terpapar Covid-19 maupun telah dinyatakan positif yang tak jujur ketika ditanya oleh tenaga medis.

Akibatnya, banyak tenaga medis yang menjalani isolasi diri selama 14 hari demi menghindari terjadinya penyebaran virus corona yang semakin meluas.

Baca Juga: Lagi, Bukti China Tak Jujur Soal Virus Corona, Ternyata Sudah Ada Korban Sejak November 2019

Hal ini bukan sekali ini terjadi melainkan sudah berkali-kali dan terjadi di banyak wilayah di Indonesia.

Namun, berdasarkan pengakuan salah seorang pasien positif Covid-19 yang kini tengah di rawat di Rumah Sakit (RS) Darurat Wisma Atlet, orang-orang yang tidak jujur tersebut melakukan hal demikian karena takut dipermainkan oleh para tenaga medis.

Melalui sosial media Twitter, pria yang tak ingin diungkap identitasnya itu mengaku sempat melakukan pemeriksaan sebelumnya di salah satu RS rujukan.

Ketika dia mengaku positif Covid-19, baik raut wajah maupun gerak-gerik tenaga medis berubah seketika dan dia berujung dilempar atau dirujuk kesana kemari.

Baca Juga: Diklaim Bisa Sembuhkan Virus Corona, Obat Herbal ala Satgas DPR RI Ini Peroleh Izin Edar

Baca Juga: Kulit Jendela Kesehatan Kita, Menemukan 10 Tanda Ini Segera Konsultasi ke dokter, Gejala Awal yang Masih Bisa Diobati

Bahkan, selama di rawat di RS Darurat Wisma Atlet pun dia merasa tingkah laku beberapa perawat di sana seperti ketakutan apabila berdekatan dengan pasien Covid-19.

Padahal para perawat RS tersebut mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap.

Oleh karenanya, pria tersebut mengatakan alasan orang-orang tidak jujur saat ditanya oleh tenaga kesehatan karena mereka takut ditolak dan dipermainkan oleh pihak RS.

Baca Juga: Dokter Tewas Lagi, Banyak Korban Tenaga Medis Akibat Pasien Tak Jujur?

Hingga akhirnya, alih-alih mendapat perawatan dan penanganan, orang-orang tersebut bisa saja pulang dengan tangan hampa alias tidak mendapat perawatan sama sekali.

Dengan demikian, pria tersebut berharap para tenaga kesehatan tidak lepas dari tanggungjawab sehingga kasus yang dialaminya tidak lagi terjadi.

Berdasarkan pengakuannya, dia dinyatakan positif Covid-19 pada Rabu, 15 April 2020.

Baca Juga: Cerita Tragis Tenaga Medis di Pekalongan, Menjadi ODP Corona Gegara Pasien dan Keluarganya Tak Jujur

Baca Juga: Terinspirasi dari Iron Man, Dosen di Banyumas Ciptakan Masker Pendeteksi Sebaran Covid-19

Awalnya, dia mengeluhkan batuk yang cukup parah yang disertai demam, pada 16 Maret dia melakukan pemeriksaan ke dokter. Ia pun disarankan dokter untuk mengunjungi dokter spesialis paru-paru jika batuk yang dideritanya semakin parah.

Tiga hari kemudian, dia mengunjungi dokter spesialis paru dalam keadaan lemas.

Baca Juga: Di Amerika, Pasien Covid-19 Banyak Ditemui dalam Kondisi Obesitas

Berdasarkan hasil pemeriksaan, paru-paru pria tersebut dinyatakan bermasalah di mana adanya infiltrat, menandakan gejala pneumonia.

Saat melakukan pemeriksaan, dirinya mengaku tak mengalami sesak napas, bahkan demam juga sudah mereda.

Namun, dia merasakan selalu berkeringat banyak di malam hari saat tidur juga timbulnya rasa mual.

Baca Juga: Update Covid-19; Banyak Pasien yang Gunakan Ventilator Meninggal Dunia, Ini Penyebabnya

Baca Juga: Keunggulan PCR Buatan Dalam Negeri untuk Deteksi Covid-19, Menggunakan Sampel Pasien Orang Indonesia

Empat hari setelahnya atau 27 Maret, dia kembali ke dokter spesialis paru-paru dan melakukan rawat inap selama 10 hari.

Setelah di tempatkan di kamar isolasi, selama 4 hari dia kesulitan tidur. Namun seiring berjalannya waktu, kondisinya membaik hingga hari ke-5 dia tak perlu lagi menggunakan infus, dan di hari ke-9 dia diperbolehkan pulang.

Sebelumnya dia melakukan tes swab pada tanggal 31 Maret 2020, dan dinyatakan positif pada 15 April 2020. Sampai dengan hari ini dia masih menjadi perawatan di RS Darurat Wisma Atlet.

Baca Juga: 1 Orang Terinfeksi Covid-19 Negara Mengeluarkan Biaya 231 Juta Lebih, Swasta 500 Juta Rupiah

Mengenai hal ini sebenarnya sebagai masyarakat, pasien kesehatan, kita harus tahu di masa pandemi, seperti sekarang ini, Covid-19, dimana banyak masyarakat berobat dalam waktu bersamaan ke rumah sakit. Maka tenaga medis akan melakukan skala prioritas.

Mereka yang sakit berat, dengan gejala berat, dan ada komplikasi tentu akan lebih diutamakan untuk mendapat pelayanan perawatan.

Sementara yang gejala ringan, atau tanpa gejala, disarankan untuk perawatan mandiri di rumah.

Adapun mengenai maksimalnya pelayanan kepada pasien, satu hal yang musti diketahui, jumlah tenaga medis untuk menangani pasien dimasa pandemi ini tidak seimbang.

Jumlah pasien yang harus ditangani dan dirawat di rumah sakit rujukan Covid-19, jauh lebih banyak dari jumlah tenaga medis.

Karenanya tenaga medis harus bertindak taktis dan cepat, tanpa ada bumbu entertainment.(*)

Baca Juga: Kulit Jendela Kesehatan Kita, Menemukan 10 Tanda Ini Segera Konsultasi ke dokter, Gejala Awal yang Masih Bisa Diobati

#berantasstunting

#HadapiCorona