Sementara menurut Dr Malik Peiris, ketua virologi di University of Hong Kong, anak-anak tidak kebal terhadap virus corona Wuhan. Namun, ketika mereka terinfeksi, gejala yang mereka alami cenderung ringan sehingga luput dari pemantauan ahli.
John Williams, pakar penyakit menular anak di University of Pittsburgh Medical Center mengatakan, infeksi tanpa gejala adalah hal yang umum pada anak, terjadi pada 10-13% kasus.
Sebuah riset yang terbit bulan Mei di JAMA Pediatrics, mengungkap bahwa anak-anak dan remaja memiliki risiko lebih besar untuk mengalami komplikasi dan kondisi yang parah jika terpapar Covid-19.
Baca Juga: Studi, Pemberian Air Gula Saat Imunisasi Bisa Tenangkan Bayi
Baca Juga: Orangtua Wajib Tahu, ASI dan Suplemen Tak Dapat Menggantikan Imunisasi
Sementara itu, penelitian yang dilakukan sekelompok ilmuwan di Rutgers University, New Jersey itu mengungkap, anak-anak rentan mengalami kondisi parah terutama jika memiliki penyakit bawaan kronis, termasuk obesitas.
"Namun anak-anak yang tidak memiliki penyakit kronis juga rentan terinfeksi Covid-19. Orangtua harus benar-benar waspada," ungkap peneliti Lawrence C Kleinman, profesor sekaligus Wakil Kepala Pengembangan Akademis dan Kepala Divisi Pediatrik Kesehatan Masyarakat, Rutgers Robert Wood Johnson Medical School.
Baca Juga: Amerika Serikat Krisis Campak, Orangtua Bakal Dihukum Bila Anaknya Tak Imunisasi
Ahli epidemiologi dari Columbia University, Stephen Morse, mengatakan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang dapat menjadi pembawa asimptomatik atau penularan infeksi tanpa gejala virus corona. (*)
#berantasstunting #hadapicorona