Find Us On Social Media :

Kaleidoskop Penyakit 2022, Gagal Ginjal Kronis Tetap Menjadi Agenda Utama Perhatian Pemerintah RI, Angka Pasien Cuci Darah Meningkat

Seorang perempuan sedang menjalani cuci darah akibat penyakit gagal ginjal kronis. Masih jadi agenda di Indonesia.

GridHEALTH.id - Perlahan Indonesia menuju endemi Covid-19, ternyata masih ada agenda yang harus dibereskan sehubungan dengan penanganan penyakit lain, yaitu penyakit gagal ginjal kronis.

Saat puncak pandemi Covid-19 pada 2020 hingga 2021, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, pasien penyakit ginjal kronis memiliki risiko kematian akibat covid-19 terbesar, yakni 13,7 kali lipat jika dibandingkan dengan tidak memiliki komorbid.

Gagal ginjal kronis berada di ranking keempat di antara delapan penyakit katastropik, yang artinya membutuhkan biaya pengobatan yang tinggi dan memiliki komplikasi yang bisa mengancam jiwa.

Penyakit gagal ginjal kronis juga berada di urutan keempat yang menyedot pembiayaan terbesar oleh BPJS. Urutannya ialah penyakit jantung, kanker, strok, gagal ginjal kronis, talasemia, hemofilia, leukemia, dan sirosis.

Meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran semakin maju, jumlah penderita gagal ginjal kronis ini terus saja meningkat.

Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi penyakit ginjal kronis (PGK) baru 0,2% dari total populasi dan penderita batu ginjal sebanyak 0,6%.

Namun, pada Riskesdas 2018, prevalensi PGK meningkat menjadi 0,38%, meningkat dua kali lipat. Namun, Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) memperkirakan jumlah sebenarnya lebih besar dari hasil perhitungan Riskesdas di atas.

Penelitian yang dilakukan Pernefri pada 2006 di beberapa titik di Jawa menemukan bahwa 12,5% atau sekitar 25-30 juta populasi sudah mengalami penurunan fungsi ginjal. Angka ini jauh lebih besar dari perhitungan Riskesdas.

Namun, semenjak pandemi covid-19, belum ada lagi Riskesdas sehingga kita belum tahu perkembangan angka terakhir pada 2020-2021.

Pasien dengan gagal ginjal kronis membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Rutinitas cuci darah (bagi yang memilih terapi ini) tentulah memberatkan pasien, di samping mengurangi keleluasaan aktivitas fisik.

Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang lebih cermat untuk pasien gagal ginjal kronis, tidak hanya saat menghadapi pandemi covid-19 ini, tetapi juga kelak untuk penanganan pascapandemi.

Untuk diketahui, pPenyakit ginjal kronis bisa diakibatkan diabetes, bisa juga karena selain diabetes.