Find Us On Social Media :

ART di Jakarta Pusat Aborsi Bayi dengan Minum Obat, Ketahui Risikonya!

Risiko melakukan aborsi bagi reproduksi wanita.

Risiko Wanita yang Melakukan Aborsi

Menurut NHS, aborsi adalah proses untuk mengakhiri kehamilan, yang dilakukan dengan minum obat atau melalui prosedur pembedahan.

Proses ini hanya bisa dilakukan di rumah sakit, didampingi tenaga medis yang memang sudah terlisensi. 

Risiko aborsi bagi wanita tergantung pada metode yang dijalaninya, menggunakan obat atau pembedahan.

* Efek penggunaan obat aborsi

Risiko utama dari penggunaan obat aborsi yang dilakukan saat usia kandungan di bawah 14 minggu, yakni terdapat sisa kehamilan yang masih tertinggal di rahim sehingga butuh dilakukan prosedur lain.

Wanita yang melakukan tindakan ini juga berisiko mengalami pendarahan hebat dan kerusakan pada rahim atau sepsis.

Baca Juga: Aneka Warna Lidah yang Wajib Diketahui, Deteksi Penyakit dan Kondisi Kesehatan

Selain ada risiko bagian kehamilan yang tertinggal dalam rahim, minum obat aborsi saat usia kandungan lebih dari 14 minggu juga akan menyebabkan infeksi.

Infeksi atau cedera tersebut, biasanya ditemukan terjadi pada rahim wanita.

* Efek bedah aborsi

Risikonya sebenarnya hampir sama dengan yang dilakukan menggunakan obat penggugur kandungan.

Bedanya, infeksi atau cedera tidak terjadi di rahim melainkan pintu masuknya yaitu serviks.

Tak hanya itu, ada beberapa risiko yang berpotensi terjadi pada kondisi reproduksi wanita ke depannya. Salah satunya yang berkaitan dengan kesuburan, akibat infeksi rahim yang tidak ditangani dengan cepat.

Infeksi bisa menyebar ke saluran tuba dan ovarium, yang dikenal dengan penyakit radang panggul (PID). Ini dapat meningkatkan risiko kemandulan atau kehamilan etopik, sel telur berada di luar rahim.

Akan tetapi, sebagian besar infeksi dapat diobati sebelum mencapai tahap tersebut. (*)

Baca Juga: Perawatan yang Dilakukan Setelah Keguguran Usia Kehamilan 6 Minggu