GridHEALTH.id - Baru-baru ini, kabar kurang menyenangkan datang dari keluarga Mona Ratuliu.
Mona Ratuliu blak-blakan menceritakan kondisi sang putri, Davina Shafa Felisa atau yang akrab disapa Mima.
Putri sulung pasangan Mona Ratuliu dan Indra Brasco berbagi tentang sakit mental atau depresi yang dialaminya pada 2022 lalu.
Bahkan, kabar kondisi kesehatan mental sang Mima sampai tersebar di media sosialnya.
Mona Ratuliu mengungkapkan bahwa awalnya Mima sering merasakan sakit asam lambung.
Baca Juga: Hindari Konsumsi 5 Makanan Ini, Cegah Depresi Bertambah Parah
Akan tetapi, ia belum tahu terkait penyakit depresi tersebut.
"Sejak dia umur dua belas tahun sudah mulai asam lambung, bolak balik UGD karena sesak. Cuma waktu itu kami enggak tahu itu apa, tapi sempat kami bawa ke dokter ini dokter itu," ujar Mona Ratuliu di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Saat Mima Shafa duduk di bangku SMA, Mona mulai mengetahui anaknya itu mengalami panic attack.
Ketika tahu ada masalah di kesehatan mental anaknya, Mona bahkan tidak terlalu syok karena ia sudah mengetahui tanda-tanda depresi yang dialami Mima sejak lama.
"Terus pas SMA dia sudah mulai panic attack, bolak balik ke psikolog, itu sebenarnya sudah panjang" kata Mona Ratuliu.
Belajar dari pengalaman Mona Ratuliu, penting untuk orangtua memahami kondisi kesehatan mental anaknya.
Baca Juga: Tidak hanya Sadar Kesehatan Mental, Generasi Z Memiliki Sejumlah Kebiasaan Unik
Menjadi sehat secara mental selama masa kanak-kanak berarti, mencapai tonggak perkembangan dan emosional serta mempelajari keterampilan sosial yang sehat dan cara mengatasi ketika ada masalah.
Anak yang sehat secara mental memiliki kualitas hidup yang positif dan dapat berfungsi dengan baik di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.
Gangguan mental pada anak-anak digambarkan sebagai perubahan serius dalam cara anak belajar, berperilaku, atau menangani emosi mereka, yang menyebabkan kesusahan dan masalah dalam menjalani hari.
Banyak anak terkadang mengalami ketakutan dan kekhawatiran atau menunjukkan perilaku yang mengganggu.
Jika gejalanya serius dan terus-menerus serta mengganggu aktivitas sekolah, rumah, atau bermain, anak tersebut mungkin didiagnosis mengalami gangguan jiwa.
Melansir dari webmd.com, gejala depresi pada anak bervariasi.
Kondisi ini seringkali tidak terdiagnosis dan tidak diobati karena gejalanya dianggap sebagai perubahan emosi dan psikologis yang normal.
Selain depresi, ketakutan juga muncul karena beberapa kondisi ini:
1. Gangguan cemas berlebih
2. Serangan panik
3. Gejala putus obat terlarang
4. Fobia sosial
5. Fobia lainnya.
Berbagai kelainan psikologis seperti di atas memang bisa menyebabkan peningkatan asam lambung.
Mekanisme pastinya seringkali tidak diketahui.
Namun, diperkirakan, kelainan psikologis tersebut memicu tubuh untuk memproduksi banyak hormon stres, seperti cortisol.
Hormon inilah yang menyebabkan aktifitas sel parietal meningkat sehingga menyebabkan produksi asam lambung pun akan ikut meningkat.
Umumnya, dokter akan melakukan wawancara psikiatrik secara mendalam atau dibantu dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, seperti endoskopi.
Jika diperlukan, mungkin juga dokter akan merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam atau psikiater.(*)
Source | : | WebMD,Grid.ID,alodokter,Cdc.gov |
Penulis | : | Magdalena Puspa |
Editor | : | Gazali Solahuddin |
Komentar