GridHEALTH.id - Makanan yang dikonsumsi, selanjutnya akan melalui proses pencernaan.
Pembahasan terkait hal ini, termasuk dalam materi pelajaran Biologi kelas XI tentang saluran dan kelenjar pencernaan makanan.
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh melalui proses pencernaan.
Perlu diketahui, di dalam saluran cerna terdapat sejumlah organ tubuh yang terlibat, salah satunya adalah usus.
Organ ini terdiri dari beberapa jenis dan memiliki perannya masing-masing. Yuk, cari tahu jenis usus dan masalahnya.
Berikut adalah jenis-jenis usus yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia.
Sari makanan diserap di usus halus. Di bagian ini juga terjadi proses pencernaan yang paling panjang.
Usus halus terdiri dari tiga bagian, yakni usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejenum), dan usus penyerap (ileum).
Di dalam usus halus terjadi proses pencernaan kimiawi dengan melibatkan berbagai enzim pencernaan.
Pada dinding usus, terdapat vili yang berfungsi memperluas daerah penyerapan usus halus, sehingga sari-sari makanan bisa terserap lebih banyak dan cepat.
Dinding vili banyak mengandung kapiler darah dan kapiler limfe. Supaya bisa mencapai darah, sari-sari makanan harus menembus sel dinding usus halus dan selanjutnya masuk pembuluh darah.
Baca Juga: Saluran dan Kelenjar Pencernaan, Kenali Cara Kerja Lambung dalam Mengolah Makanan
Makanan yang tidak dicerna di usus halus, selanjutnya bersama dengan lendir akan menuju ke usus besar dan menjadi feses.
Di dalam usus besar, terdapat bakteri Escherichia coli. Bakteri ini membantu dalam proses pembusukan sisa makanan menjadi feses.
Selain pembusukan sisa makanan, bakteri tersebut juga menghasilkan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah.
Usus besar terdiri dari bagian yang naik, yakni usus buntu (apendiks), bagian mendatar, bagian menurun, dan berakhir di anus.
Untuk bisa sampai ke usus besar, makanan memerlukan waktu sekitar 4-5 jam. Namun, sisa makanan hanya akan bertahan di sana selama 24 jam.
Di dalam usus besar, feses didorong secara teratur dan lambat oleh gerakan peristalsis, yang dikendalikan otot polos, menuju ke rektum.
Organ yang termasuk sistem pencernaan, seperti usus, tidak selalu bebas dari gangguan atau penyakit.
Beberapa masalah kesehatan ini paling sering terjadi di usus dan menyebabkan ketidaknyamanan.
Ini merupakan gangguan pencernaan yang sering terjadi, membuat perut terasa mulas dan feses menjadi encer.
Diare terjadi akibat iritasi di selaput dinding usus besar. Salah satu faktor yang memicu diare, kebiasaan makan yang tidak higenis.
Sehingga, gerakan peristaltik usus menjadi tidak terkendali dan di dalam usus besar tidak terjadi penyerapan air.
Baca Juga: 10 Jenis Penyakit dan Kelainan Darah yang Sering Terjadi serta Gejalanya
Jika di feses terdapat darah atau nanah, berarti orang tersebut mengalami desentri.
Ini terjadi karena adanya infeksi bakteri Shigella pada dinding usus besar.
Selain diare, penyakit yang terjadi karena ada masalah pada usus adalah sembelit.
Sembelit merupakan gangguan pencernaan yang mengakibatkan seseorang sulit mengeluarkan feses yang keras.
Gangguan ini terjadi disebabkan karena usus besar menyerap air terlalu banyak. Faktor pemicunya kurang konsumsi makanan berserat.
Apendisitis merupakan gangguan sistem pencernaan di mana umbai cacing atau usus buntu mengalami peradangan.
Ini biasanya terjadi saat ada sisa-sisa makanan yang terjebak serta tidak bisa dikeluarkan di umbai cacing.
Lama-kelamaan, umbai cacing akan busuk serta menimbulkan peradangan yang menjalar ke susu buntu.
Bila umbai cacing tidak segera dibuang, seiring waktu akan pecah. Adanya peradangan di susu ditandai dengan kemunculan nanah.
Gangguan atau penyakit ini menyerang usus bunti. Keadaan terjadi karena usus buntu terinfeksi oleh bakteri.
Radang usus buntu terjadi karena lubang antara usus buntu dan usus besar tersumbat oleh lendir atau biji cabai. (*)
Baca Juga: Mengenal Lemak dan Fungsinya pada Tubuh, Tidak Selalu Berbahaya
Penulis | : | Nurul Faradila |
Editor | : | Poetri Hanzani |
Komentar