“Efek akhir pekan kemungkinan disebabkan oleh kekurangan staf klinis, kapasitas, dan pegalaman. Terlebih lagi, temuan kami menunjukkan bahwa masalah ini tidak terselesaikan meskipun ada peningkatan kinerja dan kesadaran sistem kesehatan selama pandemi,” ujar dr Manzoor.
Menurutnya, terdapat kesempatan bagi layanan kesehatan untuk bisa meningkatkan perawatan klinis setiap hari selama seminggu.
“Studi lebih lanjut, dengan data klinis terperinci diperlukan untuk menyelidiki pemicu dan penyebab risiko kematian pada hari kerja dan akhir pekan akibat Covid-19,” sambungnya.
Terlepas dari temuan penting ini, Fizza Manzoor dan rekan-rekan penelitinya mencatat bahwa studi yang dilakukannya ini bisa dibatasi oleh hasil negatif palsu.
Selain itu, mungkin juga terdapat kasus yang terlewatkan dan kesalahan entri data, yang bisa memengaruhi kesimpulan penelitian.
Data yang tersedia juga tidak memperhitungkan tingkat keparahan penyakit atau perbedaan faktor mikrobiologis, sistemik, dan sosial yang memengaruhi setiap gelombang pandemi yang terpisah.
Hasil penelitian ini akan dipresentasikan di Kongres Mikrobiologi Klinis & Penyakit Menular Eropa (ECCMID) di Lisbon, Portugal pada akhir April mendatang.
Baca Juga: Jelang Lebaran, 99,2 Persen Masyarakat Indonesia Punya Antibodi Covid
Source | : | Worldometers.info,News Wise |
Penulis | : | Nurul Faradila |
Editor | : | Soesanti Harini Hartono |
Komentar