Find Us On Social Media :

Berpuasa Pada Saat Hamil di Trimester Dua Dapat Menurunkan Risiko Diabetes Gestasional

Berpuasa dapat menghindari risiko diabetes gestasional.

GridHEALTH.id - Tidak diragukan lagi bahwa berpuasa membawa banyak manfaat kesehatan bagi yang melakukannya. Antara lain membersihkan tubuh seperti semacam detoks dan dapat menurunkan berat badan.

Tetapi  juga dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing agar dapat berpuasa dengan lancar.

Dokter Yassin Yanuar MIB, SpOG,-KFER, M.Sc, Chief Executive Officer Bamed mengatakan, “Melihat kondisi Ramadan yang akan datang di tahun ini akan perlahan kembali normal, penyebaran Covid-19 dan penyakit yang timbul diluar Covid-19 pada cluster keluarga masih menjadi perhatian utama kami.

Meskipun mayoritas masyarakat sudah vaksin lengkap dan juga booster. Jangan sampai keluhan maupun pemeriksaan rutin bagi pasien dengan kondisi tertentu diabaikankan,” katanya pada Virtual Media Briefing 'Siap hadapi Ramadhan untuk keluarga Indonesia Amankah puasa bagi ibu hamil dan menyusui?' di Jakarta yang diadakan klinik Bamed (31/03/2022).

Berbicara tentang berpuasa bagi ibu hamil pada Virtual Media Briefing hari ini, dr. Muhammad Fadli, SpOG, Spesialis Kandungan dan Kebidanan Bamed mengatakan, “Sebuah penelitian menunjukkan berpuasa pada saat hamil di trimester kedua, dapat menurunkan risiko terkena penyakit gula pada saat kehamilan (diabestes gestasional) dan kenaikan berat badan yang berlebihan.

Namun sebelum berpuasa, sebaiknya berkonsultasi ke Dokter spesialis kandungan terlebih dahulu untuk memastikan keadaan ibu dan janin dalam keadaan yang prima.”

“Beberapa penelitian lainnya menunjukkan bahwa puasa juga tidak mengakibatkan bayi terlahir prematur ataupun bayi akan terlahir dengan berat badan lebih rendah dibandingkan yang tidak berpuasa,” jelasnya.

Tetapi menurut dr. Muhammad, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan ibu hamil sebelum puasa.

Yang paling utama yaitu memastikan berat badan janin sesuai dengan usia kehamilan, air ketuban mencukupi dan mengetahui tanda-tanda yang wajib diperhatikan, seperti berat badanibu ataupun janin turun, tanda-tanda dehidrasi seperti haus yang berlebihan, pusing, air seni kuning pekat ataupun merasakan gerakan bayi yang berkurang.

Baca Juga: Tips Agar Gula Darah Terkendali Pada Diabetes Gestasional Kehamilan

Baca Juga: Healthy Move, 8 Alasan Bulu Tangkis Bisa Jadi Pilihan Olahraga

Dalam paparannya, ia menjelaskan, “Penting untuk diperhatikan bahwa puasa saat hamil muda mungkin bisa sedikit berisiko bagi ibu hamil.

Saat hamil muda, tubuh membutuhkan banyak nutrisi untuk mendukung perkembangan dan pertumbuhan bayi dalam kandungan. Hamil muda merupakan tahap di mana kehamilan sedang membutuhkan banyak sekali nutrisi penting.

Apabila terdapat keluhan mual dan muntah pada trimester pertama dapat mengakibatkan risiko dehidrasi pada ibu dan berdampak pada janin.”

Ia juga mengatakan langkah yang ditempuh agar ibu hamil tetap bugar dan janin tetap sehat ibu hamil yaitu minum air putih 2,5lt sehari, mengurangi konsumsi kafein, memperbanyak makan karbohidrat kompleks dan mengurangi aktifitas di luar ruangan.

“Selama ibu dan kandungannya dinyatakan sehat oleh dokter, ibu hamil diperbolehkan untuk melakukan puasa. Asalkan saat sahur dan berbuka ibu hamil harus memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ibu dan kandungannya,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, dr. Ratu Abigail Audity, B.Med.Sc., MSi, Chief Marketing Officer Bamed dalam sambutannya mengatakan, “Di masa sekarang, kenyamanan dan keamanan pasien nomor satu bagi kami.

Agar pasien tetap nyaman melakukan kontrol kesehatan, kami menjaga mereka dengan protokol kesehatan di Bamed yang kami perkuat.

Mulai dari sebelum kedatangan pasien ke Bamed, pasien dapat melakukan perjanjian melalui WhatsApp maupun telfon terlebih dahulu untuk diberikan waktu kedatangan sesuai urutan. Hal ini bertujuan untuk menghindari penumpukkan pasien tunggu di waktu yang bersamaan dan juga waktu kunjungan pasien yang efektif bersama dokter.”

Tentang protokol kesehatan di Klinik Bamed, Ia menjelaskan, “Ketika pasien datang ke Bamed, protokol kesehatan dimulai dari pengukuran suhu dan identifikasi pemakaian masker sebelum masuk ke dalam klinik secara otomatis.

Baca Juga: WHO Memperingatkan Munculnya Strain XE Mutan Covid Baru, Hibrida Dua Subvarian Omicron

Baca Juga: Tidur Lagi Setelah Sahur Wajib Tunggu 2 Jam, Ternyata Ini Alasannya

Dilanjutkan pengukuran suhu manual, pengukuran kadar oksigen, adanya pembatas tatap muka di area resepsionis dan kasir, swab antigen untuk pasien sebelum tindakan, alas sekali pakai di semua ruang kontrol, khusus pasien Skin Care diberikan starter kit berupa head cap, alas treatment sekali pakai, dan tempat penyimpanan masker.”

Ia juga menambahkan, “Setelah treatment selesai, kami menerapkan pembayaran secara cashless dan untuk pasien, kami berikan Bamed essential kit yang isinya Bamed Spray (hand sanitizer), Bamed Wipes (tissue basah), masker medis, dan vitamin C.

Tak lupa juga di setiap sudut area Bamed terdapat  air purifier dan juga hand sanitizer, pemberlakuan alur pasien satu arah dengan pintu masuk dan pintu keluar yang berbeda, serta pemberian jarak tempat duduk untuk memberikan perlindungan ekstra.

Protokol kesehatan dijalankan ketat, contohnya perlengkapan APD lengkap yang dipakai oleh dokter dan perawat, jadwal rutin deep cleaning di seluruh area Bamed, antigen swab rutin bagi tim yang bekerja di Bamed mulai dari tim medis dan non medis.

Terakhir, secara otomatis akan ada fitur pengingat otomatis untuk pasien melakukan kontrol dan pengaturan waktu yang terjadwal untuk kembali ke Bamed.

Baca Juga: Modal Antibodi Bagus Saja Tidak Cukup Kuat Menghadapi Omicron, Studi Baca Juga: Gejala dan Penanganan Tonsilitis, Radang Amandel Akibat Virus dan Bakteri

Adhimukti T. Sampurna, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV, Chief Medical Ancillary Services Officer Bamed mengatakan, “Bulan suci ini kami akan berupaya untuk tetap menjaga pasien ketika melakukan kontrol dan memberikan edukasi secara online maupun offline.

Agar masyarakat Indonesia dapat perlahan menjalani aktivitas yang normal di bulan suci tahun ini dengan rasa nyaman dan aman tanpa mengabaikan kesehatan keluarganya masing-masing.” (*)